Rahasia Puasa: Dari Misteri “Fasting Girls” hingga Astronot di Luar Angkasa

Bercerita Sekilas
By -
0

Pembuka — Bayangkan satu pertanyaan sederhana

Bayangkan kalian berada di stasiun luar angkasa — di mana matahari terbit dan terbenam 16 kali sehari. Kalau sedang Ramadan, kapan waktu berbuka? Pertanyaan itu membuka jalur cerita yang menyambungkan tradisi agama, kisah-kisah misterius masa lalu, dan temuan ilmiah modern.

Artikel ini menyusun bukti sejarah, penjelasan sains tentang autofagi, dan catatan praktik bagi astronaut Muslim — disajikan singkat, padat, dan bisa dijadikan sumber referensi untuk video atau pos blog Anda.

Sejarah singkat: dari Pythagoras sampai "Fasting Girls"

Pythagoras dan praktik kuno

Sejak Yunani kuno, tokoh seperti Pythagoras menggunakan puasa sebagai alat untuk meningkatkan kejernihan pikir. Ide "menahan makan untuk berpikir lebih tajam" muncul berulang kali di seluruh tradisi—dari ritual keagamaan sampai kebiasaan filsuf.[1]

Fenom ena "Fasting Girls" (Era Victoria)

Pada abad ke-19, fenomena fasting girls membuat publik dan dokter tercengang: klaim bahwa beberapa gadis tidak makan bertahun-tahun. Kasus-kasus ini mengekspos persilangan agama, tekanan sosial, dan keterbatasan ilmu medis kala itu — serta tragedi ketika klaim diuji secara brutal.[2]

Catatan sejarah tersebut memberi kita konteks mengapa puasa menjadi ritual personal sekaligus budaya kolektif — sebuah praktik yang menyentuh iman dan ilmu.

Sains modern: autofagi & 'metabolic switching'

Riset modern menunjukkan bahwa berpuasa 16 jam atau lebih memicu mekanisme seluler bernama autofagi — proses "pembersihan" internal di mana sel mendaur ulang bagian yang rusak menjadi sumber energi baru. Fenomena ini dikaitkan pada peningkatan sensitivitas insulin, pengurangan peradangan, dan potensi perlindungan saraf.[3]

Apa itu metabolic switching?

Istilah ini merujuk pada peralihan mode metabolik tubuh: dari memanfaatkan glukosa (sebagai bahan bakar cepat) ke memecah lemak dan memanfaatkan produk sampingnya untuk energi — proses yang mendorong autofagi. Ringkasnya: puasa bisa memicu reset biologis yang nyata.

Puasa di luar angkasa: dilema waktu & solusi praktis

Di ISS, astronaut menyaksikan matahari terbit dan terbenam lebih dari selusin kali per hari — sehingga penanda waktu alami tidak lagi relevan. Otoritas agama dan badan antariksa merekomendasikan: gunakan zona waktu Bumi (mis. peluncuran) atau waktu Makkah sebagai acuan ritual. Contoh praktis: Sultan Al Neyadi yang pernah berpuasa di orbit memilih pendekatan berbasis waktu peluncuran atau waktu Makkah untuk menentukan sahur/imsak.[4]

Di sisi nutrisi, makanan astronot dirancang agar mudah dihidratasi dan seimbang elektrolitnya — penting saat berpuasa di kondisi mikrogravitasi yang memengaruhi cairan tubuh.[5]

Panduan singkat: puasa sehat (praktis untuk pembaca modern)

  • Jaga hidrasi saat sahur: pilih makanan yang mengikat cairan (serat + protein).
  • Periode makan berkualitas: jika Anda menerapkan 16:8, utamakan makanan tinggi mikronutrien saat jendela makan.
  • Perhatikan elektrolit: garam, kalium, magnesium penting saat aktivitas tinggi.
  • Konsultasikan kondisi medis sebelum mencoba fasting jangka panjang.

Tonton ringkasan video & subscribe ke channel Bercerita Sekilas



Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)