![]() |
| Visualisasi simbolis adaptasi genetik Suku Bajo: Reservoir oksigen alami yang terbentuk melalui evolusi ribuan tahun. |
Indonesia tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga menyimpan bukti nyata evolusi manusia yang diakui dunia. Salah satu fenomena yang paling mencengangkan adalah keberadaan Suku Bajo, atau yang dikenal secara global sebagai Sea Nomads. Mereka bukan sekadar penyelam ulung; tubuh mereka telah beradaptasi secara genetik untuk bertahan di kedalaman laut dengan cara yang hampir mustahil bagi manusia biasa.
Banyak laporan yang menyebutkan bahwa penyelam Suku Bajo mampu menahan napas hingga 13 menit di bawah air tanpa alat bantu apa pun. Meskipun angka rata-rata dalam penelitian berada di kisaran 5-8 menit, klaim "superhuman" ini telah memicu rasa ingin tahu komunitas ilmiah internasional.
Misteri Limpa Raksasa: Reservoir Oksigen Alami
Rahasia utama kemampuan luar biasa ini terletak pada organ yang seringkali terlupakan: Limpa (Spleen). Hasil studi genomik komparatif menunjukkan bahwa Suku Bajo memiliki ukuran limpa yang 50% lebih besar dibandingkan populasi darat di sekitarnya. Mengapa ini penting?
Dalam biologi penyelaman mamalia, limpa berfungsi sebagai waduk sel darah merah yang kaya oksigen. Saat Suku Bajo menyelam dan menahan napas, limpa mereka berkontraksi secara otomatis, melepaskan cadangan darah beroksigen ini ke dalam sirkulasi tubuh. Hal ini secara efektif memperpanjang durasi mereka bisa tetap berada di bawah air tanpa kekurangan oksigen atau hipoksia.
"Adaptasi fisiologis ini menyerupai apa yang kita amati pada mamalia laut seperti anjing laut, menjadikan Suku Bajo sebagai kasus studi penting evolusi manusia."
Baca Juga: Keajaiban Budaya Nusantara yang Mendunia
Peran Gen PDE10A dan Seleksi Alam
Pembesaran limpa ini bukanlah hasil dari latihan rutin semata, melainkan perubahan permanen dalam kode genetik mereka. Para ilmuwan menemukan adanya seleksi alam yang bekerja pada gen PDE10A. Varian genetik pada PDE10A inilah yang mengontrol hormon tiroid dan berkontribusi langsung pada peningkatan ukuran limpa pada Suku Bajo.
Selain PDE10A, penelitian juga menyoroti peran gen BDKRB2. Gen ini bertanggung jawab memperkuat human diving reflex atau refleks penyelaman manusia. Refleks ini memicu bradikardia (penurunan detak jantung) dan vasokonstriksi perifer, yang memastikan aliran darah hanya diprioritaskan untuk organ vital seperti jantung dan otak selama di dalam air.
Baca Juga: Misteri Sains di Balik Tubuh Manusia Super
Kehidupan di Atas Air dan Masa Depan Suku Bajo
Suku Bajo telah hidup berpindah-pindah di lautan Asia Tenggara selama ribuan tahun. Gaya hidup mereka yang bergantung sepenuhnya pada laut telah memaksa tubuh mereka untuk "berkompromi" dengan lingkungan yang ekstrem. Mereka adalah representasi hidup dari bagaimana manusia dapat beradaptasi terhadap tekanan lingkungan melalui mekanisme evolusi yang sangat spesifik.
Tonton Dokumenter Lengkapnya!
Ingin melihat langsung bagaimana aksi Suku Bajo menembus batas nalar di kedalaman laut? Simak ulasan visual yang mendalam dan sinematik di channel YouTube kami.Klik untuk Subscribe: Channel YouTube Bercerita Sekilas
Referensi Utama:
- Physiological and Genetic Adaptations to Diving in Sea Nomads - PubMed
- The Bajau Sea Nomads - ISEMPH
- Science: Mystery of Sea Nomads Solved - The Guardian

Posting Komentar
0Komentar